Tampilkan postingan dengan label komponen elektronika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komponen elektronika. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2014

Komponen yang sudah beredar di Indonesia (tanpa gambar) yang wajib diketahui berdasar kualitasnya

1. Resistor,
a.) resistor kawat nekelin/resistor sekring warna abu-abu kusam/kotak putih bernilai hambatan kecil fungsinya sebagai pembatas arus,pengaman pada rangkaian umumnya tersedia dalam daya 1/2 sampai 20watt. Mudah mati.
b.) resistor karbon warna kuning tua/coklat muda dengan gelang warna 4, ini adalah resistor yang banyak dipakai karena harga yg termurah dan kualitas standar. umumnya tersedia dari 1/8 sampai 2 watt.
c.) resistor metal film warna biru muda/tua dengan gelang 5 atau 6, untuk diaplikasikan di rangkaian berkualitas baik kepekaan, kehalusan dan mutu yang baik. tersedia dari 1/8 - 2 watt. Eh catatan jika menemukan berbentuk seperti ini warna hijau atau biru muda dengan 4 gelang warna agak gemuk itu adalah inductor ya bukan R metal film hati-hati.
d.) resistor keramik SMD (surface mount device) warna hitam kotak kecil memakai kode angka untuk nilainya tersedia dari 1/16 - 1 watt sekarang mulai marak diaplikasikan di semua peralatan elektronik dan dibenci oleh tukang service elektronik emang R SMD salah apa ya?
2. Kondensator,
a.) Keramik kualitas rendah warna coklat/hijau kusam nilai pf,nf bentuk bulat pipih atau kotak agak bulat pipih, harga murah dan baik untuk RF band rendah, sering bocor frekuensi. Kasus ada suara radio AM masuk ke Ampli ya karena keramik ini yg basah/bocor
b.) Keramik kualitas tinggi warna mengkilap atau biru muda untuk tegangan diatas 100v
c.) Mylar, warna hijau atau merah mengkilap, kualitasnya lebih halus dari keramik a/b diatas.
d.) MKM, warna kuning atau biru bentuk kotak rapi, kualitas lebih bagus dari a/b/c.
e.) Tantalum, bentuk bulat lonjong kecil, kualitas paling baik tapi harganya gak ramah bisa juga untuk mengganti elko kapasitas kecil.
f.) elko, berbentuk tabung, semakin berat rapi dan cetak sablonnya bagus menentukan kualitasnya (harga gak bohong).
g.) Kondensator SMD mirip R SMD warna coklat kotak kecil biasanya tanpa dituliskan nilai. Kualitas setara c dan d.

Silahkan rekan-rekan lain tambahkan ya. Makasih sudah dibaca dijempol dan dikomentari, kalau kurang mohon koreksi namanya manusia pasti ada salahnya tapi tujuannya baik tanpa maksud menjerumuskan. Selamat pagi selamat bekerja dan yuuuk ngopi dulu ben ora edan

Senin, 24 Februari 2014

Mengenal Kode Pada Dioda Zener

Sedikit berbagi..soal fungsi diode zener kawan2 tekhnisi pasti udh pd tau kan.., jdi gk ush d jelaskn lgi..klo pun ad yg blm tau.., cri tau sndri aj d google..ane akn sdkit brbgi tntang kode2 zener yg mgkin msih asing bgi sbgian tekhnisi.. tdk brmksud sok pintar atw mnggurui.. skedar brbagi aj.., kta bareng2 bljar..Beberapa arti dari kode zener :
• IN4728 = 3,3V
• IN4729 = 3,6V
• IN4730 = 3,9V
• IN4731 = 4,3V
• IN4732 = 4,7V
• IN4733 = 5,1V
• IN4734 = 5,6V
• IN4735 = 6,2V
• IN4736 = 6,8V
• IN4737 = 7,5V
• IN4738 = 8,2V
• IN4739 = 9,1V
• IN4740 = 10V
• IN4741 = 11V
• IN4742 = 12V
• IN4743 =13V
• IN4744 =15V
• IN4745 =16V
• IN4746 =18V
• IN4747 =20V
• IN4748 = 22V
• IN4749 =24V
• IN4750 =27V
• IN4751 =30V
• IN4752 =33V
• IN4753 =36V
• IN4754 = 39V
• IN4755 =43V
• IN4756 =47V
• IN4757 =51V
• IN4758 =56V
• IN4759 =62V
• IN4760 =68V
• IN4761 =75V
• IN4762 =82V
• IN4763 =91V
• IN4764 =100V

Selasa, 18 Februari 2014

Belajar Mengetahui Nilai Resistor

    Nilai resistor sering disebut juga nilai resistansi dan dinyatakan dalam satuan Ohm (Ω). Kata Ohm diambil/berasal dari sebuah nama seorang ahli fisika yakni George Ohm, Ia seorang yang berkebangsaan Jerman, dan dia jugalah penemu Resistor yang kita bahas ini. Nah itulah seklumit sejarah resistor, lalu bagaimana cara mengetahui nilai resistansi sebuah resistor?

Cara mengetahui nilai Resistor

Untuk mengetahui nilai sebuah Resistor, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan yakni:
1. Membaca gelang warna pada body Resistor
2. Membaca kode angka pada body Resistor (umumnya pada resistor SMD)
3. Mengukur nilainya dengan menggunakan Ohmmeter/multitester ataupun multimeter
Pada kesempatan kali ini saya coba menguraikan yang pertama dulu yakni: membaca gelang warna Resistor

* Membaca gelang warna pada body resistor

Pada umumnya resistor yang ada dipasaran mempunyai 4 gelang warna dan 5 gelang warna, untuk mempermudah membacanya, coba lihat tabel gelang warna Resistor dibawah ini:
Tabel Nilai Resistor
Mari kita pelajari Resistor yang mempunyai 4 gelang warna dulu:
Sebelum mulai membaca tentunya kita wajib tahu, gelang warna manakah yang merupakan gelang warna kesatu/pertama, kedua, ketiga dan seterusnya? sebagai acuan mudah kita bersama, biasanya gelang ke-4 atau terakhir itu berwarna emas atau kalau tidak perak.
Contoh gelang Resistor
Keterangan gambar:
gel.1 adalah gelang ke-1 berwarna merah
gel.2 adalah gelang ke-2 berwarna hitam
gel.3 adalah gelang ke-3 berwarna merah
gel.4 adalah gelang ke-4 berwarna emas
Dari gambar Resistor dapat kita ketahui nilai resistansinya yakni merah : 2, hitam : 0, merah : 00 dan emas : 5%, jadi nilai resistansi Resistor diatas adalah : 2000 Ω dan 5% toleransinya atau 2 KΩ biasa disingkat menjadi 2 K. Kenapa demikian? lihat tabel warna diatas, karena
gelang ke-1 itu menunjukan angka digit pertama
gelang ke-2 menunjukan angka digit kedua
gelang ke-3 menujukan jumlah nol
gelang ke-4 menujukan nilai toleransinya.
Contoh lagi misalkan Anda menjumpai sebuah resistor dengan gelang warna merah, merah, coklat dan emas berarti : 220Ω dan toleransi 5%.
Lanjut ke Resistor dengan 5 gelang warna:
Kebanyakan Resistor dengan 5 gelang warna terbuat dari bahan metal film, untuk mengetahui atau menentukan urutan gelangnya sama persis seperti Resistor dengan 4 gelang warna. Perbedaan keduanya tidak terlalu signifikan, berikut urutannya
gelang ke-1 menunjukan anka ke-1
gelang ke-2 menunjukan angka ke-2
gelang ke-3 menunjukan angka ke-3
gelang ke-4 menunjukan banyaknya nol / faktor perkalian
gelang ke-5 menunjukan nilai toleransi

Contoh: apabila anda menjumpai sebuah Resistor dengan warna : Merah, Coklat, Merah, Oranye dan Emas maka nilai resistansinya 212000 Ω dan 5% toleransinya, atau 212KΩ toleransi 5%. Semoga tulisanku ini bisa dipahami dan bermanfaat untuk Sobat semua.

SCR ( Silicon Controlled Rectifier)

Cara untuk membuat thyristor menjadi ON dengan memberi arus trigger lapisan P yang dekat dengan katoda. Yaitu dengan membuat kaki gate pada thyristor PNPN seperti pada gambar dibawah. Karena letaknya yang dekat dengan katoda, bisa juga pin gate ini disebut pin gate katoda (cathode gate). Beginilah SCR dibuat dan simbol SCR digambarkan seperti gambar dibawah. SCR dalam banyak literatur disebut Thyristor saja.
Melalui kaki (pin) gate tersebut memungkinkan komponen ini di trigger menjadi ON, yaitu dengan memberi arus gate. Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Dimana tegangan ini adalah tegangan minimum yang diperlukan SCR untuk menjadi ON. Sampai pada suatu besar arus gate tertentu, ternyata akan sangat mudah membuat SCR menjadi ON. Bahkan dengan tegangan forward yang kecil sekalipun. Misalnya 1 volt saja atau lebih kecil lagi. Kurva tegangan dan arus dari sebuah SCR adalah seperti yang ada pada gambar yang berikut ini.
Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika tegangan forward SCR mencapai titik ini, maka SCR akan ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat menyebabkan tegangan Vbo turun menjadi lebih kecil. PSejauh ini yang dikemukakan adalah bagaimana membuat SCR menjadi ON. Pada kenyataannya, sekali SCR mencapai keadaan ON maka selamanya akan ON, walaupun tegangan gate dilepas atau di short ke katoda. Satu-satunya cara untuk membuat SCR menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda turun dibawah arus Ih (holding current). Pada gambar-5 kurva I-V SCR, jika arus forward berada dibawah titik Ih, maka SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada di dalam datasheet SCR. ada gambar ditunjukkan beberapa arus Ig dan korelasinya terhadap tegangan breakover. Pada datasheet SCR, arus trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger current). Pada gambar ada ditunjukkan juga arusIh yaitu arus holding yang mempertahankan SCR tetap ON. Jadi agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju katoda harus berada di atas parameter ini.

Sejauh ini yang dikemukakan adalah bagaimana membuat SCR menjadi ON. Pada kenyataannya, sekali SCR mencapai keadaan ON maka selamanya akan ON, walaupun tegangan gate dilepas atau di short ke katoda. Satu-satunya cara untuk membuat SCR menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda turun dibawah arus Ih (holding current). Pada gambar-5 kurva I-V SCR, jika arus forward berada dibawah titik Ih, maka SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada di dalam datasheet SCR.

Cara membuat SCR menjadi OFF tersebut adalah sama saja dengan menurunkan tegangan anoda-katoda ke titik nol. Karena inilah SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok digunakan untuk aplikasi DC. Komponen ini lebih banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi tegangan AC, dimana SCR bisa OFF pada saat gelombang tegangan AC berada di titik nol.

Ada satu parameter penting lain dari SCR, yaitu VGT. Parameter ini adalah tegangan trigger pada gate yang menyebabkab SCR ON, tegangan ini adalah tegangan Vbe pada transistor Q2. VGT seperti halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt. Seperti contoh rangkaian gambar dibawah berikut ini sebuah SCR diketahui memiliki IGT = 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Maka dapat dihitung tegangan Vin yang diperlukan agar SCR ini ON adalah sebesar :
Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT = 4.9 volt

Trafo/Transformator

Trafo merupakan komponen elektronika yang berfungsi untuk memindahkan tegangan dari bagian input (primer) ke bagian outputnya (sekunder) dan mengubah (menaikkan / menurunkan) tegangan listrik.
  

Prinsip kerja


Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan sekunder. Jika efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan sekunder.

Jenis-jenis transformator

Trafo Step-Up Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.
  • Bentuk

Gambar 1. Trafo Step up

  • Simbol

Gambar 2. Simbol Trafo Step up

2. Trafo Step Down

Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.
  • Bentuk

Gambar 3. Trafo Step Down


  •  Simbol

    Gambar 4. Simbol Step Down



3.  Autotransfomator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa.
Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).
  •  Bentuk


Gambar 5.  Autotransformator


  • Simbol

    Gambar 6. Autotransformator

4. Autotransfomator Variabel

Autotransfomator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.
  • Bentuk

Gambar 7. Autotransformator Variabel
  • Simbol

    Gambar 8. Simbol Autotransformator Variabel

5. Trafo Isolasi

Transformasi isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer. Tetapi ada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian. Transormator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang.

6. Trafo Pulsa

Transformator yang didesain khusus untuk memberikan keluaran gelombang pulsa.  Transformator jenis ini menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.

7. Transformator Tiga Fase

Tiga transformator yang dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara delta.

LED (Ligth-Emitting Diode)

 Led (Ligth-Emitting Diode) dalam dunia elektronika merupakan salahsatu komponen elektronika yang masih tergolong dalam keluarga Diode/Dioda. Apa itu Diode dapat kita ketahui dan baca pada Pengenalan Diode diblog Elektronika ini.

Pengertian atau Definisi LED

LED merupakan singkatan dari Ligth-Emitting Diode dalam bahasa Inggris, artinya kurang lebih dioda pancaran cahaya. Jadi LED dapat kita definisikan sebagai suatu komponen elektronika yang terbuat dari bahan semikonduktor dan dapat memancarkan cahaya apabila arus listrik melewatinya. Lampu LED mempunyai dua kaki/kutub Anode dan Katode, LED lebih efisien ketimbang lampu pijar biasa pada umumnya. Dalam sebuah rangkaian elekronika LED disimbolkan dengan huruf D, sama seperti Diode.

Fungsi LED

Led (Ligth-Emitting Diode) memiliki fungsi utama dalam dunia elektronika sebagai indikator atau sinyal indikator/lampu indikator. Contohnya dapat kita jumpai pada rangkaian-rangkaian elektronika led digunakan sebagai indikator ON/OFF.

Gambar LED dan Simbolnya

Gambar 1. LED
Gambar 2. Simbol Led
   
 Diatas merupakan contoh LED beserta simbolnya, untuk menentukan kaki-kaki pada LED yang terdiri dari Anoda(anode) dan Katoda(katode) dapat dilihat dari fisiknya, Kaki yang lebih panjang adalah kaki katoda kaki ini juga sebagai kutub (+). Jika pemasangan LED pada rangkaian elektronika kaki-kaki LED terbalik maka hasilnya pasti tidak akan menyala.

Applikasi LED

Dari fungsi LED sebagai indikator atau lampu pilot, sekarang Di era elektro modernisasi yang semakin canggih LED selain sebagai lampu indikator juga dapat diapplikasikan pada lampu emergency, dekorasi, display control serta display monitor. 

Transistor

Transistor 

 Transistor merupakan komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar dan penguat tegangan atau arus listrik. Transistor memiliki 3 buah kaki atau pin yaitu: Collector (C), Emitter (E) dan Basis (B). Posisi kaki-kaki ini berbeda antara transistor satu dengan yang lain walaupun ada juga yang sama.

Bentuk transistor 


 Gambar 1. Bentuk Transistor 

Jenis-jenis Transistor 

Menurut dari prinsip kerjanya transistor dibagi menjadi dua jenis yaitu; Transistor Bipolar (dwi kutub) dan Transistor Efek Medan (FET – Field Effect Transistor). 

Transistor Bipolar (Dwikutub)

 Transistor Bipolar adalah transistor yang paling umum digunakan di dunia elektronika. Transistor ini terdiri dari 3 lapisan material semikonduktor yang terdiri dari dua formasi lapisan yaitu lapisan P-N-P (Positif-Negatif-Positif) dan lapisan N-P-N (Negatif-Positif-Negatif). Sehingga menurut dua formasi lapisan tersebut transistor bipolar dibedakan kedalam dua jenis yaitu transistor PNP dan transistor NPN. Fungsi dari transistor bipolar itu sendiri adalah sebagai pengatur arus listrik (regulator arus listrik), dengan kata lain transistor dapat membatasi arus yang mengalir dari Kolektor ke Emiter atau sebaliknya (tergantung jenis transistor, PNP atau NPN) berdasarkan pada jumlah arus listrik yang diberikan pada kaki Basis. 

PNP (Positive Negative Positive) 

Prinsip kerja dari transistor PNP adalah arus akan mengalir dari emitter menuju ke kolektor jika pada pin basis dihubungkan ke sumber tegangan. Arus yang mengalir ke basis harus lebih kecil daripada arus yang mengalir dari emitor ke kolektor, oleh sebab itu maka ada baiknya jika pada pin basis dipasang sebuah resistor. Dengan kata lain, transistor PNP hidup ketika tegangan basis lebih rendah daripada tegangan emitter. Tanda panah pada symbol diletakkan pada emitter dan menuju ke dalam.

 Simbol PNP 

Gambar 2.SImbol Transistor PNP

Menentukan Kaki PNP

Mencari kaki basis

Gambar 3. Mencari kaki PNP
1) Atur multimeter pada skala 1 ohm
2) Menggunakan probe merah sebagai titik acuan.
3) Misalkan probe merah pada kaki 1 dan probe hitam dipindahkan pada kaki 2 dan kaki 3, jika jarum pada multimeter terjadi penyimpangan, maka kaki 1 adalah basis karena mengacu pada probe merah.

Mencari kaki kolektor dan emitor.

Setelah mengetahui kaki basis, maka dapat dicari kaki kolektor dan emitor, apabila kaki 1 adalah basis kemudian atur multimeter pada pengukuran 10K ohm dan kaki 2 mendapat probe merah dan kaki ke 3 mendapat probe hitam, selanjutnya jika jarum pada multimeter bergerak maka kaki ke 2 adalah emitter, sementara kaki ke 3 adalah kolektor.

NPN (Negative Positive Negative)

Arus yang mengalir dari basis harus lebih kecil daripada arus yang mengalir dari kolektor ke emitor, oleh sebab itu maka ada baiknya jika pada pin basis dipasang sebuah resistor. Dengan kata lain, transistor NPN hidup ketika tegangan basis lebih tinggi daripada tegangan emitter. Tanda panah dalam symbol diletakkan pada kaki emitter dan menunjuk ke luar. 

 Simbol Transistor NPN



Gambar 4.Simbol Transistor NPN 

Menentukan kaki NPN


Gambar 5. Mencari Kaki NPN
a. Mencari kaki basis
1) Atur multimeter pada skala 1 ohm.
2) Menggunakan probe hitam sebagai titik acuan.
3) Misalkan probe hitam pada kaki 2 dan probe merah dipindahkan pada kaki 1 dan pada kaki 3, kemudian jarum pada multimeter bergerak ke kanan, maka kaki 2 adalah basis. 


b. Mencari kaki emitor dan kolektor
Setelah mengetahui kaki basis, maka kita dapat mencari kaki emitor dan kolektor, apabila kaki 2 adalah kaki basis, maka skala yang harus dipakai pada multimeter adalah x10k, kemudian tempelkan probe htam pada kaki 1 dan probe merah pada kaki 3, jika terjadi penyimpangan jarum pada multimeter, maka kaki 1 adalah emitor dan kaki 3 adalah kolektor, karena emitor pada transistor NPN acuannya adalah probe hitam.


Transistor Efek Medan (Field Effect Transistor (FET)

FET memiliki tiga kaki terminal yang masing-masing diberi nama Drain (D), Source (S), dan Gate (G). FET beroperasi dengan cara mengendalikan aliran elektron dari terminal Source ke Drain melalui tegangan yang diberikan pada terminal Gate.
Jenis-jenis transistor MOSFET (Metal–Oxide–Semiconductor FET,
FET Semikonduktor–Oksida–Logam) menggunakan isolator (biasanya SiO2) di antara gerbang dan badan. JFET (Junction FET, FET Pertemuan) menggunakan sambungan p-n yang dipanjar terbalik untuk memisahkan gerbang dari badan.
MESFET (Metal–Semiconductor FET, FET Semikonduktor–Logam) menggantikan sambungan p-n pada JFET dengan sawar Schottky, digunakan pada GaAs dan bahan semikonduktorlainnya.
HEMT (High Electron Mobility Transistor, Transistor Pergerakan Elektron Tinggi), juga disebut HFET (heterostructure FET, FET Struktur Campur). Material celah-jalur-lebar yang dikurangi penuh membentuk isolasi antara gerbang dan badan.
IGBT (Insulated-Gate Bipolar Transistor, Transistor Dwikutub Gerbang-Terisolasi) adalah peranti untuk pengendali daya tinggi. Ini mempunyai struktur mirip sebuah MOSFET yang digandengkan dengan kanal konduksi utama yang mirip transistor dwikutub. Ini sering digunakan pada tegangan operasi cerat-ke-sumber antara 200-3000 V. MOSFET daya masih merupakan peranti pilihan utama untuk tegangan cerat-ke-sumber antara 1-200 V.
FREDFET (Fast Reverse/Recovery Epitaxial Diode FET, FET Dioda Epitaksial Cepat Balik/Pulih) adalah sebuah FET yang didesain khusus untuk memberikan kecepatan pemulihan (pematian) yang sangat cepat dari dioda badan.
ISFET (Ion-Sensitive FET, FET Sensitif-Ion) digunakan untuk mengukur konsentrasi ion pada larutan, ketika konsentrasi ion (seperti pH) berubah, arus yang mengalir melalui transistor juga berubah.

DNAFET adalah FET khusus yang berfungsi sebagai sebuah biosensor, dengan menggunakan gerbang yang dibuat dari molekul salah satu helai DNA untuk mendeteksi helaian DNA yang cocok. 

Syarat transistor sebagai penguat tegangan


Transistor adalah komponen dasar untuk sistem penguat, untuk bekerja sebagai penguat, transistor harus berada dalam kondisi aktif. Kondisi aktif dihasilkan dengan memberikan bias pada transistor. Bias dapat diberikan dengan memberikan arus yang konstan pada basis atau pada kolektor. Pada dasarnya kerja sebuah penguat adalah mengambil masukan (input) mengolahnya dan mengolahnya dan menghasilkan keluaran (output) yang besarnya sebanding dengan masukan.
 
Gambar 6. Transistor sebagai Penguat tegangan

Syarat transistor sebagai saklar 

Dari sekian banyak kegunaan transistor dalam rangkaian elektronika, salah satunya adalah sebagai saklar. Syarat agar transistor berfungsi sebagai saklar adalah daerah kerja transistor harus berada dalam kondisi tersumbat (cut off). Transistor sebagai saklar mepunyai dua kondisi yang bergantian, yaitu kondisi “tertutup” pada saat saturasi dan kondisi “terbuka’’ pada saat cut off. 

 Kondisi saturasi.


Gambar 7. Kondisi Transistor Saturasi

Kondisi cut off.


Gambar 8. Kondisi Transistor Cut off